AKURASI CHATGPT TERHADAP KAJIAN ŞALĀT FARDHU SERTA ANALISIS KOMPARATIF DENGAN KITAB FATḤ AL-QARĪB
Keywords:
Artificial Intelligence, ChatGPT, Şalāt Fardhu, Fatḥ al-Qarīb, Analisis Konten Kualitatif, LiamputtongAbstract
Penelitian ini membahas keakuratan kecerdasan buatan, khususnya ChatGPT, dalam menjelaskan kajian fiqih mengenai şalāt fardhu, serta membandingkannya dengan kitab klasik Fatḥ al-Qarīb karya Syekh Muhammad Ibnu Qasim al-Ghozi. Fokus utama kajian ini meliputi definisi şalāt, macam-macam şalāt fardhu, serta syarat wajib şalāt. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif deskriptif dengan pendekatan postmodernisme dan teknik analisis konten. Data primer diperoleh dari hasil interaksi dengan ChatGPT, sedangkan data sekunder berasal dari Fatḥ al-Qarīb sebagai sumber rujukan tradisional yang banyak digunakan di pesantren dan lembaga pendidikan Islam. Hasil penelitian menunjukkan bahwa definisi şalāt menurut ChatGPT lebih aplikatif dan kontekstual, sementara Fatḥ al-Qarīb menekankan aspek formalitas fiqih. Pada pembahasan macam-macam şalāt fardhu, keduanya memiliki substansi yang sama namun berbeda dalam cara penyajian waktu: kitab klasik menggunakan terminologi astronomis, sedangkan ChatGPT menyajikannya dengan bahasa populer yang lebih mudah dipahami. Adapun dalam syarat wajib şalāt, Fatḥ al-Qarīb hanya menyebutkan tiga syarat pokok, sedangkan ChatGPT memperluas cakupan hingga mencakup syarat sah, yang menunjukkan adanya pencampuran terminologi. Secara keseluruhan, temuan ini menegaskan bahwa ChatGPT dapat menjadi media bantu dalam memahami fiqih dasar, namun tetap memerlukan verifikasi terhadap sumber klasik agar tidak terjadi reduksi atau penyimpangan makna.











