PENERAPAN METODE SOROGAN DALAM PENDEKATAN PEDAGOGIS KITAB GHOYAH WAT-TAQRIB DI PONDOK PESANTREN AS-SALAFIYYAH ASY-SYAFI’IYYAH TAMBAKBERAS BARAT JOMBANG

Authors

  • M. Ibnu Ihsan Universitas KH. A. Wahab Hasbullah Jombang
  • Mochammad Syafiuddin Shobirin Universitas KH. A. Wahab Hasbullah Jombang

Keywords:

metode sorogan, pembelajaran kitab, pesantren, santri

Abstract

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh masih digunakannya metode sorogan dalam pembelajaran kitab di lingkungan pesantren, khususnya di Pondok Pesantren As-Salafiyyah Asy-Syafi’iyyah Tambakberas Barat Jombang. Metode sorogan merupakan salah satu tradisi khas pesantren yang menekankan keterlibatan langsung antara santri dan ustadz melalui proses membaca kitab secara bergiliran di hadapan guru untuk kemudian dikoreksi dan diberi penjelasan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana metode sorogan diterapkan dalam pembelajaran kitab, apa saja tantangan yang dihadapi oleh pengajar maupun santri, serta bagaimana persepsi dan pengalaman santri terhadap metode tersebut. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan teknik pengumpulan data berupa observasi, wawancara, dan dokumentasi. Instrumen yang digunakan meliputi pedoman wawancara, catatan observasi, dan dokumen kegiatan pembelajaran. Data dianalisis secara deskriptif dengan menekankan makna daripada angka. Hasil penelitian menunjukkan bahwa metode sorogan diterapkan secara rutin dengan pola santri membaca kitab di hadapan ustadz, kemudian mendapat koreksi serta penjelasan langsung, sehingga santri memperoleh pemahaman yang mendalam terhadap isi kitab. Tantangan yang muncul meliputi keterbatasan waktu, jumlah santri yang banyak dibandingkan dengan tenaga ustadz, serta ketergantungan santri pada penjelasan guru sehingga kemandirian belajar masih kurang berkembang. Meskipun demikian, persepsi santri terhadap metode sorogan pada umumnya positif. Santri menilai sorogan membantu mereka memahami kitab secara lebih baik, meningkatkan disiplin, serta menumbuhkan kedekatan emosional dengan guru, meskipun ada kendala seperti rasa gugup ketika membaca di depan ustadz. Dengan demikian, sorogan masih relevan dipertahankan sebagai metode pembelajaran kitab di pesantren, sambil terus dikembangkan agar lebih adaptif terhadap tantangan pendidikan modern.

Downloads

Published

2025-09-27