AL-DĀKHIL FĪ AL-TAFSĪR DARI KELOMPOK MU’TAZILAH DAN LIBRALIS

Authors

  • Bainar Rohmah Sekolah Tinggi Agama Islam Darussalam Bangkalan
  • Shofia Sekolah Tinggi Agama Islam Darussalam Bangkalan
  • Siti Nabila Sekolah Tinggi Agama Islam Darussalam Bangkalan
  • Islamiyah Sekolah Tinggi Agama Islam Darussalam Bangkalan

Keywords:

al-dākhil fī al-tafsīr, Mu‘tazilah, Liberalis, hermeneutika, penyimpangan tafsir.

Abstract

Penelitian ini membahas al-dākhil fī al-tafsīr yang muncul dari kelompok Mu‘tazilah dan kelompok Liberalis sebagai dua arus pemikiran yang sering dinilai membawa unsur-unsur eksternal ke dalam penafsiran al-Qur’an. Kelompok Mu‘tazilah dikenal menempatkan rasio sebagai otoritas tertinggi, sehingga sejumlah penafsiran mereka dipengaruhi oleh prinsip-prinsip teologi seperti keadilan Tuhan, kemahabaikan Tuhan, dan penolakan sifat-sifat Tuhan yang dianggap menyerupai makhluk. Metode tersebut melahirkan penafsiran-penafsiran yang dinilai menyimpang karena memaksakan ide teologis ke dalam makna ayat secara rasionalistik. Adapun kelompok Liberalis, sebagai representasi pemikiran Islam kontemporer, mengedepankan hermeneutika modern, relativisme makna, dan pendekatan sosio-historis ekstrem yang memosisikan al-Qur’an lebih sebagai produk budaya daripada wahyu transendental. Hal ini menghasilkan penafsiran yang sering kali melemahkan otoritas teks dan membuka ruang subjektivitas yang luas. Studi ini bertujuan mengidentifikasi bentuk-bentuk al-dākhil dalam penafsiran kedua kelompok tersebut serta menganalisis faktor penyebab kemunculannya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penyimpangan penafsiran yang dilakukan Mu‘tazilah berakar pada dominasi akal atas teks, sementara penyimpangan kelompok liberalis dipengaruhi oleh paradigma pemikiran Barat yang menekankan kebebasan interpretasi. Penelitian ini menegaskan perlunya metodologi tafsir yang integratif agar penafsiran tidak terlepas dari disiplin ilmu tafsir klasik dan prinsip-prinsip keotentikan al-Qur’an.

Downloads

Published

2025-12-14