METODE QASHASHUL QUR’AN SEBAGAI INOVASI PENDIDIKAN KARAKTER SISWA KELAS X PADA PEMBELAJARAN AKIDAH AKHLAK DI MADRASAH ALIYAH NEGERI 3 JOMBANG
Keywords:
Metode Qashashul Qur’an; Inovasi Pendidikan Karakter; Pembelajaran Akidah Akhlak.Abstract
Pendidikan karakter merupakan salah satu tujuan utama penyelenggaraan pendidikan di madrasah, namun pembelajaran Akidah Akhlak yang masih didominasi metode ceramah dan hafalan menyebabkan proses internalisasi nilai karakter belum berlangsung secara optimal. Salah satu upaya inovatif yang diterapkan di Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 3 Jombang adalah metode Qashashul Qur’an, yaitu metode pembelajaran yang memanfaatkan kisah-kisah Al-Qur’an sebagai media penanaman karakter. Penelitian ini bertujuan menganalisis penerapan metode Qashashul Qur’an, nilai-nilai karakter yang ditanamkan, hasil penerapannya, serta faktor pendukung dan penghambatnya dalam pembelajaran Akidah Akhlak kelas X. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan desain studi kasus. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam, observasi langsung, dan dokumentasi, dengan informan Wakil Kepala Madrasah Bidang Kurikulum, guru Akidah Akhlak, dan salah satu siswa kelas X. Analisis data dilakukan melalui kondensasi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan metode Qashashul Qur’an dilaksanakan melalui empat tahapan sistematis, yaitu perencanaan dan seleksi kisah, penyampaian narasi berbantuan media audio-visual, tadabbur dan diskusi kelompok, serta refleksi dan komitmen aksi nyata mingguan. Nilai-nilai karakter yang ditanamkan meliputi kejujuran (al-sidq), kesabaran (al-sabr), tanggung jawab (al-amanah), kepedulian sosial, dan ketakwaan, yang terinternalisasi melalui dimensi moral knowing, moral feeling, dan moral doing. Tingkat keberhasilan metode ini dalam membentuk karakter terpuji diperkirakan mencapai 75–80%, ditandai perubahan perilaku nyata siswa di madrasah maupun di asrama pesantren. Faktor pendukung meliputi sarana IT kelas dan atmosfer religius lingkungan pesantren, sedangkan faktor penghambat meliputi keterbatasan waktu, keberagaman motivasi siswa, dan kelelahan fisik akibat padatnya kegiatan asrama, yang diatasi melalui pemilahan kisah esensial, visualisasi interaktif, dan kolaborasi guru dengan wali kelas, guru BK, serta pengurus asrama.











