KAJIAN SPASIAL TANAH TURUN DI DAERAH ALIRAN SUNGAI KAMPAR, DESA PENYASAWAN BARAT
Keywords:
turunan tanah, erosi sungai, analisis spasial, DAS Kampar, perubahan lingkunganAbstract
Fenomena turunan tanah di daerah aliran sungai merupakan salah satu bentuk degradasi lahan yang perlu mendapatkan perhatian serius karena dapat mengancam infrastruktur, pemukiman, serta keseimbangan lingkungan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor-faktor penyebab turunan tanah di Desa Penyasawan Barat, Kecamatan Kampar, Kabupaten Kampar, yang berada di sepanjang Daerah Aliran Sungai (DAS) Kampar. Wilayah ini mengalami perubahan signifikan akibat pembangunan di tepi sungai yang menyebabkan perubahan arah aliran air dan berdampak pada kestabilan tanah di sekitarnya. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif yang dipadukan dengan analisis spasial. Data diperoleh melalui observasi lapangan, wawancara dengan masyarakat setempat, serta pengumpulan data sekunder seperti peta kemiringan lereng, jenis tanah, curah hujan, dan penggunaan lahan. Data kualitatif dianalisis untuk memahami persepsi masyarakat terhadap perubahan lingkungan yang terjadi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa turunan tanah di Desa Penyasawan Barat dipicu oleh interaksi antara faktor alam dan aktivitas manusia. Faktor dominan meliputi jenis tanah lempung berpasir yang mudah jenuh air, kemiringan lereng yang curam, perubahan arah aliran sungai akibat pembangunan restoran di tepi sungai, serta berkurangnya vegetasi alami di sepanjang sempadan. Perubahan arah arus sungai membuat energi air terkonsentrasi pada satu sisi tebing, sehingga mempercepat erosi dan penurunan tanah di sekitar jalan dan permukiman warga. Upaya penahan berupa turap sudah dilakukan, namun belum sepenuhnya efektif karena tekanan arus sungai masih tinggi. Penelitian ini menegaskan bahwa fenomena turunan tanah tidak hanya disebabkan oleh kondisi fisik wilayah, tetapi juga oleh kurangnya pengelolaan tata ruang yang memperhatikan daya dukung lingkungan. Oleh karena itu, pengelolaan daerah aliran sungai perlu dilakukan secara terpadu dengan memperhatikan aspek konservasi tanah dan vegetasi. Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi bahan pertimbangan dalam perencanaan wilayah, mitigasi bencana, serta peningkatan kesadaran masyarakat akan pentingnya menjaga keseimbangan ekosistem sungai.
References
Asdak, C. (2010). Pengelolaan Daerah Aliran Sungai. Bumi Aksara.
https://fahutan.ulm.ac.id/id/buku/bukuajar/23_buku_ajar-_pengelolaan_das.pdf
BPBD Kota Malang. (2019). Mengenal Longsor, Penyebab dan Pencegahannya.
cmczone.com. (2018). Longsor Tebing Sungai Kampar Ancam Rumah Warga Desa Penyasawan.
https://cmczone.com/2018/12/17/longsor-tebing-sungai-kampar-ancam-rumah-warga-desa-peyasawan/
Eprints UNDIP. (2012). Faktor-faktor Erosi dan Sedimentasi.
https://eprints.undip.ac.id/34588/6/2086_chapter_II.pdf
Fakultas Kehutanan ULM. (2021). Pengelolaan Daerah Aliran Sungai.
https://fahutan.ulm.ac.id/id/buku/bukuajar/23_buku_ajar-_pengelolaan_das.pdf
Kementerian ESDM. (2018). Pengenalan Gerakan Tanah.
https://www.esdm.go.id/assets/media/content/Pengenalan_Gerakan_Tanah.pdf







