ATRAKSI WISATA BUDAYA TITI (TATO) SEBAGAI DAYA TARIK WISATA DI DESA WISATA MUNTEI KECAMATAN SIBERUT SELATAN KABUPATEN KEPULAUAN MENTAWAI

Authors

  • Puja Sriwayuni Institut Agama Kristen Negeri Tarutung
  • Ade Putera Panjaitan Universitas KH. A. Wahab Hasbullah
  • Yulia Sitepu Institut Agama Kristen Negeri Tarutung
  • Masniar H. Sitorus Institut Agama Kristen Negeri Tarutung
  • Rusmauli Simbolon Institut Agama Kristen Negeri Tarutung

Keywords:

Atraksi Wisata Budaya, Titi

Abstract

Penelitian ini dilatarbelakangi dengan adanya fenomena budaya  di salah satu desa yang ada di Kecamatan Siberut Selatan, yaitu Atraksi Wisata Budaya Titi (tato). Dengan adanya Atraksi budaya titi (tato) ini  membuka peluang usaha untuk masyarakat di Desa Wisata Muntei. Atraksi budaya titi (tato) ini dapat menarik para pengunjung atau wisatawan, baik lokal maupun mancanegara, untuk berkunjung ke Desa Wisata Muntei. Tujuan penelitian ini untuk  mendeskripsikan Atraksi wisata budaya titi sebagai daya tarik di Desa Wisata Muntei. Atraksi wisata merupakan salah satu daya tarik yang memiliki nilai  tersendiri  dan mampu menarik wisatawan agar mau berkunjung  ketempat tujuan daerah wisata. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif yang pengumpulan datanya  melalui  observasi, wawancara, dan dokumentasi terhadap beberapa informan, yaitu kepala desa, pelaku titi (tato), tokoh masyarakat di Desa Wisata Muntei. Melalui penelitian ini, diperoleh deskripsi mengenai atraksi wisata budaya titi yang masih dilestarikan  oleh masyarakat  Desa Wisata Muntei. Pemerintah dan masyarakat ikut serta dalam pengembangan dan pelestarian titi (tato) supaya titi (tato) lebih berkembang lagi. Sebagaimana harapan pemerintah, dengan berkembangnya titi (tato) di Mentawai dapat menambah perekonomian masyarakat dari sektor pariwisata.

References

Bangel, P. B. P. (2020).” Tato Tradisional Bunga Terung Di Kalangan Pengguna Tato Di Kota Palangka Raya (Doctoral dissertation, Universitas Komputer Indonesia).

Delfi (2015). “Identitas Mentawai dilihat dari budaya yang dimiliki.”

Kebudayaan, Dinas, dan Pariwisata Kab.Mentawai (2019). “proses pembuatan material dan teknik Titi (Tato) yang masih tradisional dan sistem kehidupan dan sistem mata pencaharian yang bergantung dengan alam.”

Klein (2015). “Tato identitas yang tergambar mulai dari tanah asal,status sosial, hingga seberapa hebat seorang pemburuh.”

Marta, W (2021). “Pengenalan Sejarah Wisata Budaya Tato Mentawai Dalam Bentuk Motion Graphic.” Titik Imaji 3(2).

Mulia, S I (2021). “Eksistensi Tato Mentawai Sebagai Bentuk Resistensi Kebudayaan Sosial di Kepulauan Sumatera Barat.” Kusa Lawa 1(1): 62–68.

Munaf, Y (1999). “Kajian semiotika dan mitologi tentang tato masyarakat tradisional Kepulauan Mentawai.”

Nurlita, L W(2017). “Motif Remaja Putri Bertato di Wisma Kenanga Sumampir Purwokerto Utara Kabupaten Banyumas.”

Pitana (2009: 130). “atraksi wisata sebagai sebuah destinasi wisata”

Pendit (2002). “daya tarik wisata yang dimanfaatkan untuk kepentingan ekonomi.”

Ratnaningtyas, E M, E Saputra, D Suliwati, B T A Nugroho, M H Aminy, N Saputra, dan A S Jahja (2023). Metodologi Penelitian Kualitatif. Aceh: Yayasan Penerbit Muhammad Zaini.

Rosa (1994). “Titi (tato) ditubuh masyarakat Mentawai sebagai tanda kedewasaan, baik pria maupun wanita.”

Rumbiati, A R, dan Y Y Putra (2017). “Konsep diri pada masyarakat mentawai yang memakai tato.” Jurnal RAP (Riset Aktual Psikologi Universitas Negeri Padang 6(2): 114–125.

Sabolak, S S (2020). “TRUST PADA REMAJA TERHADAP BUDAYA TITI (TATO MENTAWAI) DI MENTAWAI.”

Saragih (1993).” wisata alam bentuk kegiatan rekreasi dan pariwisata yang memanfaatkan potensi sumberdaya alam.”

Soendari, T (2012). “Metode penelitian deskriptif.” 17: 75.

Suwantoro (2004:18)." atraksi wisata salah satu hal penting dari tiga unsur pokok sarana wisata.”

Suwena (2010).” Atraksi wisata buatan seperti pameran, wisata olahraga, taman bermain, festival dan konferensi

Syakhrani, A W, dan M L Kamil (2022). “Budaya dan kebudayaan: Tinjauan dari beragai pakar, wujud-wujud kebudayaan, tujuh unsur kebudayaan yang bersifat universal.” Cross-border 5(1): 782–791.

Sugiyono (2012:137).“Sumber sekunder yang tidak langsung memberikan data pada pengumpul data.”

Yulianto (2019)."daya tarik berbasis utama pada kekayaan alam"

Yuniarto, P R (2021). “Nilai Budaya dan Identitas Kolektif Orang Suku Mentawai dalam Paruruk, Tulou, dan Punen.” Masyarakat Indonesia 47(2): 129–146.

Downloads

Published

2024-09-29

How to Cite

Puja Sriwayuni, Ade Putera Panjaitan, Yulia Sitepu, Masniar H. Sitorus, & Rusmauli Simbolon. (2024). ATRAKSI WISATA BUDAYA TITI (TATO) SEBAGAI DAYA TARIK WISATA DI DESA WISATA MUNTEI KECAMATAN SIBERUT SELATAN KABUPATEN KEPULAUAN MENTAWAI. Jurnal Pendidikan Sosial Dan Humaniora, 3(3), 3807–3821. Retrieved from https://publisherqu.com/index.php/pediaqu/article/view/1330

Most read articles by the same author(s)