PROBLEMATIKA KESEHATAN MENTAL MAHASISWA UIN JAKARTA : ANALISIS DINAMIKA TEKANAN AKADEMIK DAN FORMULASI STRATEGI PROMOSI KESEHATAN MENTAL
Keywords:
promosi kesehatan mental, mahasiswa perguruan tinggi, Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN), stigma keagamaan, layanan konseling, privasi digital.Abstract
Mahasiswa Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN), khususnya UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, dihadapkan pada dualitas tekanan yang kompleks berupa akumulasi beban akademik-organisasional yang bersinggungan langsung dengan ekspektasi moral-religius dari ekosistem kampus. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan memetakan manifestasi kebutuhan promosi kesehatan mental mahasiswa melalui analisis kritis terhadap dinamika tekanan psikologis, hambatan kultural berupa stigma, serta persepsi sistemik mahasiswa terhadap efektivitas layanan konseling internal. Metode penelitian yang digunakan adalah metode campuran (mixed-methods) dengan strategi sekuensial eksplanatori; data kuantitatif dihimpun dari kuesioner terstruktur digital lintas fakultas, sementara data kualitatif diperoleh melalui wawancara mendalam fenomenologis terhadap pengurus organisasi mahasiswa (HIMA/DEMA/UKM) yang kemudian dianalisis menggunakan statistik deskriptif dan analisis tematis. Hasil penelitian kuantitatif menunjukkan bahwa pemicu utama distres bersumber dari benturan beban akademik dan organisasi secara simultan (68,4%), yang diperparah oleh kuatnya stigma religius di lingkungan kampus (73,7%) serta fragmentasi struktural layanan yang memicu kebingungan akses (63,2%). Temuan kualitatif mengonfirmasi adanya kecemasan mendalam akan hilangnya anonimitas (anonymity anxiety) dan reduksi teologis normatif (pelabelan "kurang iman") yang melumpuhkan perilaku pencarian bantuan profesional. Berdasarkan kondisi tersebut, mahasiswa menunjukkan preferensi mutlak sebesar 89,5% terhadap kebutuhan sistem promosi kesehatan mental berbasis teknologi digital resmi yang menggaransi kerahasiaan identitas secara penuh. Implikasi teoretis dari penelitian ini mendesak adanya purifikasi epistemologis dalam memisahkan distres psikologis dari kegagalan spiritual, sedangkan implikasi praktisnya merekomendasikan rekonstruksi kebijakan pelayanan kesehatan mental yang tersentralisasi dan berorientasi pada perlindungan privasi digital.







