LITERASI MEDIA SISWA SMP DALAM MENGENALI HOAKS BERBASIS AI DI MEDIA SOSIAL
Studi Kasus di SMP Nurul Islam Jakarta
Keywords:
Deepfake, Hoaks Berbasis AI, Literasi Media, Media Sosial, Siswa SMPAbstract
Penelitian ini dilatarbelakangi oleh maraknya fenomena deepfake dan voice cloning berbasis Artificial Intelligence (AI) yang membuat siswa SMP sebagai pengguna aktif media sosial semakin rentan termakan hoaks. Melalui pendekatan kuantitatif deskriptif, survei dilakukan terhadap 60 siswa SMP Nurul Islam Jakarta pada Oktober 2026. Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara kognitif, literasi siswa tergolong sangat baik. Sebagian besar siswa menyadari bahaya hoaks AI dan memahami kemampuan AI dalam memanipulasi video atau suara. Namun, terdapat kesenjangan yang cukup memprihatinkan antara pengetahuan dan perilaku (knowing-doing gap). Meskipun merasa yakin bisa membedakan asli dan palsu, nyatanya 35% siswa mengaku pernah tertipu, dan 38,3% pernah membagikan informasi tanpa melakukan verifikasi. Di sisi lain, peran sekolah cukup kuat, di mana 83,3% siswa menyatakan diajarkan literasi media oleh guru. Dominasi penggunaan TikTok (66,7%) menjadi tantangan tersendiri karena sifat kontennya yang cepat dan emosional. Studi ini menegaskan bahwa penguatan literasi media kritis berbasis kerangka access-analyze-evaluate-create-act (Potter, 2019) sangat diperlukan agar siswa tidak hanya paham secara teori, tetapi juga bijak dalam bertindak.
References
APJII. (2024). Survei Penetrasi Internet Indonesia 2024. Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia.
Diskominfotik DKI Jakarta. (2026). Jakarta Dorong Literasi Digital, Hadapi Hoaks di Era AI. Program Duta Antihoaks Jakarta 2026.
Hapsari, D. R., Nugroho, A., & Putri, M. (2024). Penyebaran hoaks di media sosial: Analisis 92,4% konten manipulatif. Dinamisia: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat, 8(1), 298-303.
Jurnal Pengabdian UNBIN. (2026). Penyuluhan Literasi Digital Siswa SMP Melalui Edukasi Oversharing, Etika Bermedia Sosial, Anti Hoax, dan Dampak AI.
Kominfo. (2023). Panduan Literasi Digital dan Penanganan Hoaks. Kementerian Komunikasi dan Informatika RI.
Livingstone, S. (2019). Media literacy and the challenge of new information and communication technologies. The Communication Review, 22(4), 250-270.
Nursalam, N., Syarifudin, Y., & Lesmana, T. A. (2025). Peningkatan literasi digital siswa melalui edukasi cara membedakan hoaks dan fakta: Studi kasus di SMP Al Muttaqien Bogor. HUMANUS: Jurnal Sosiohumaniora Nusantara, 23(1), 45-58.
Palupi, M. T. (2020). Hoax: Pemanfaatannya sebagai bahan edukasi di era literasi digital dalam pembentukan karakter generasi muda. Jurnal Skripta, 6(1), 45-56.
Polresta Balikpapan. (2026). Polresta Balikpapan Tegaskan Literasi AI di Kalangan Pelajar, Waspadai Deepfake dan Hoaks Digital.
Potter, W. J. (2019). Media Literacy (9th ed.). Sage Publications.
Suharyanto, C. E. (2019). Analisis berita hoaks di era post-truth: sebuah review. Jurnal Masyarakat Telematika dan Informasi, 10(2), 37-49.
UNESCO. (2021). Media and Information Literacy Curriculum for Educators and Learners. UNESCO.
Wardle, C., & Derakhshan, H. (2017). Information disorder: Toward an interdisciplinary framework for research and policymaking. Council of Europe.
Yunus, S. (2019). Jurnalistik Terapan. Ghalia Indonesia.







